IPS Mudah

Prasasti Kota Kapur : Isi, Gambar, dan Sejarah Penemuannya

Advertisement
Advertisement
Riwayat kerajaan Sriwijaya diungkap oleh para sejarawan melalui penelitian terhadap beberapa prasasti sebagai sumber sejarah utamanya. Adapun di antara beberapa prasasti peninggalan Sriwijaya yang ada dan ditemukan hingga saat ini, prasasti kota kapur disebut sebagai salah satu prasasti yang memiliki keunikan, baik dari segi isi pesan yang disampaikan maupun dari penggunaan bahan batu yang dipakai. Nah, di artikel kali ini kita akan membahas secara lebih lengkap mengenai keunikan-keunikan prasasti Sriwijaya ini beserta sejarah penemuan, letak, gambar, dan isinya.

Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ditemukan pada Desember 1892 oleh seorang administrator Belanda bernama JK. Van der Meulen di sebuah kampung kecil bernama Kota Kapur, pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuo, maupun Prasasti Palas Pasemah.

Prasasti Kota Kapur : Isi, Gambar, dan Sejarah Penemuannya

Seperti terlihat pada gambar di atas, prasasti Kota Kapur sendiri berupa sebuah tiang batu setinggi 177 cm dengan 5 sisi datar yang berisi pahatan tulisan beraksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno. Dari tarikh yang tertulis padanya, diketahui bahwa prasasti ini dibuat pada awal tahun 608 Saka atau sekitar tanggal 28 Februari 686 Masehi.

Isi Prasasti Kota Kapur

Prasasti kota kapur pertama kali dianalisis pada 1902 oleh ahli epigraph Belanda yang bernama H. Kern. Karena merupakan prasasti pertama yang menyebutkan nama Sriwijaya, Kern mengangap bahwa nama tersebut merupakan nama seorang raja yang pernah berkuasa atas pulau Bangka pada masa silam. Akan tetapi, berkat bantuan George Coedes, akhirnya diketahui bahwa Sriwijaya adalah sebuah nama kerajaan besar dan kuat yang pernah berkuasa atas wilayah Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga Thailand bagian Selatan.

Coedes mentranskrip dan menerjemahkan isi prasasti kota kapur yang tertulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno itu dan memulai babak baru tentang pengungkapan sejarah Kerajaan Sriwijaya yang pernah berdiri antara abad ke 7 sd 13 Masehi tersebut. Hasil transkrip dan terjemahan Coedes atas isi prasasti Kota Kapur telah kamu kutip sebagaimana berikut.
Teks : Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.
Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan. paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.
Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwijaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana.
Tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval. Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha.
Pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu- ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.
Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. Tatkalana Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.
Terjemahan : Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya).
Wahai semua dewata yang berkuasa, yang berkumpul, dan yang selalu melindungi Kerajaan Sriwijaya ini; yang dari kamu sekalian permulaan segala sumpah diawali! Apabila di pedalaman semua daerah yang berada di bawah kuasa kerajaan ini ada orang yang memberontak, yang bersekongkol dengan pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata-kata pemberontak, yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, tidak takluk, dan tidak setia kepadaku dan pada mereka yang telah aku angkat sebagai penguasa; jadikanlah orang-orang tersebut mati terkena kutuk.
Kepada mereka saat ini akan dikirim sebuah ekspedisi untuk melawan mereka di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, agar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya.
Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk.
Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada ku, biar pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk.
Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka !
Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.
Isi prasasti Kota Kapur hasil terjemahan Coedes di atas menerangkan sepenggal sejarah kerajaan Sriwijaya. Dari isi prasasti tersebut, kita mengetahui bahwa pada abad ke 7 Masehi kekuasaan Sriwijaya telah mencakup pulau Bangka. Adapun kutukan-kutukan yang ada di dalamnya membuktikan bahwa pada masa tersebut ada pergolakan dan pemberontakan terhadap kekuasaan raja. Serangan terhadap bumi Jawa diperkirakan sebagai serangan terhadap kerajaan Tarumanegara yang tidak mau tunduk terhadap kemaharajaan Sriwijaya. [Baca Juga : Pendiri Kerajaan Sriwijaya]

Nah, itulah yang dapat kami sampaikan tentang prasasti kota Kapur peninggalan Sriwijaya lengkap dengan isi, gambar, dan teksnya. Semoga bermanfaat dan membantu Anda dalam menggali sejarah kerajaan maritim terbesar ini. Salam.
Advertisement

0 Response to "Prasasti Kota Kapur : Isi, Gambar, dan Sejarah Penemuannya"